15 Mei 2019

Rokok Elektronik: Ancaman atau Solusi? Ini Kata Pakar

Assalamualaikum, temen-temen! 14 Mei 2019 lalu, 12 dokter dari organisasi profesi dan lembaga kesehatan masyarakat menjawab polemik soal rokok elektronik. 

Nah, dari berbagai pemberitaan, aku coba merangkum statement-statement yang dimuat oleh teman-teman media. Silakan disimak, ya. Aku juga cantumkan tautan beritanya. 

rokok elektronik ancaman atau solusi
Rokok Elektronik: Ancaman atau Solusi? (Foto dari beritasatu.com)

“Rokok elektronik memiliki substansi yang bersifat karsinogenesis sehingga memiliki risiko perubahan sel dan mencetuskan timbulnya beberapa kanker tertentu, seperti kanker paru, mulut dan tenggorokan, dan juga gangguan di bidang pencernaan, sistem imun, dan timbulnya trombosis,” | Dr Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, Ketua Umum PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) 

"Nikotin cair dalam rokok elektronik bisa membuat efek ketagihan. Rokok elektronik juga bisa menjadi alat untuk konsumsi beragam jenis narkoba," | dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, SpKJ(K), MPH dari Institute of Mental Health, Addiction, and Neuroscience (IMAN) 

Sumber: KBR 

"Rokok elektronik tidak lebih aman dari rokok tembakau. Karena selain mengandung nikotin yang menyebabkan adiksi atau ketagihan, uap rokok elektronik juga mengandung bahan karsinogen lain yang justru tidak ada pada rokok tembakau," | dr Vinka Imelda dari Yayasan Kanker Indonesia 

Sumber: VIVA 

"Konferensi WHO pada tahun 2014 mengatakan tidak ada cukup bukti untuk menyatakan rokok elektronik dapat membantu berhenti merokok," | Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P (K), FAPSR, FISR, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 

Sumber: TIRTO

"Berbagai penelitian menunjukkan dampak rokok elektronik pada sistem paru dan pernapasan, seperti peningkatan peradangan atau inflamasi, kerusakan epitel, kerusakan sel, menurunkan sistem imunitas lokal paru dan saluran napas. Rokok elektronik juga meningkatkan hipersensitif saluran napas, risiko asma dan emfisema, dan risiko kanker paru," | Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P (K), FAPSR, FISR, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 

"Terdapat 7x1.011 zat radikal per-hirup rokok elektronik yang akan meningkatkan stres oksidatif dan memiliki efek pengubah status imun yang mirip dengan rokok reguler. Kandungan zat berbahaya dalam rokok elektronik antara lain nikotin, dapat mengubah ekspresi beberapa gen, salah satunya ICAM-4 yang dapat meningkatkan penempelan bakteri tuberkolosis atau TBC. Kondisi tersebut membuat perokok berisiko dua kali lipat untuk terinfeksi dan meninggal karena TBC dibandingkan bukan perokok," | Dr. Erlina Burhan dan dr Anna Rozaliyani dari Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) 

"Saat ini beredar anggapan bahwa rokok elektronik adalah produk yang lebih aman dari rokok biasa. Ada juga anggapan bahwa rokok elektronik bisa jadi alat bantu bagi orang-orang yang ingin berhenti merokok. Alih-alih berhenti merokok, berbagai penelitian di beberapa negara menunjukkan para perokok justru terjerat rokok elektronik dan rokok konvensional sebagai pengguna ganda (dual users). Indonesia perlu mengambil sikap kehati-hatian. Indonesia perlu mewaspadai klaim kesehatan yang menjebak," | dr. Widyastuti Soerojo dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) 

"Rokok elektronik ternyata tetap berpengaruh negatif pada sel mukosa mulut dan tidak terbukti bahwa rokok elektrik merupakan cara yang tepat untuk menghentikan kebiasaan merokok konvensional," | drg. Didi Nugroho Santosa dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia 

Sumber: BERITASATU  

"Rokok elektronik berbahaya dan tetap mengandung bahan-bahan kimia yang berdampak pada kesehatan. Rokok elektronik mengandung nikotin; bahan penyebab kanker seperti propilen glikol, gliserol dan nitrosamin; dan bahan beracun lainnya yang merangsang iritasi dan peradangan serta kerusakan sel," | dr Feni Fitriani, Ketua Kelompok Kerja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 

Sumber: ANTARA 

"Survei yang diungkap 2011 lalu menyebutkan sebanyak 0,3 persen anak-anak dan remaja sudah merokok dengan rokok elektronik atau vape. Padahal, bahan yang mengandung nikotin dalam bentuk apapun, termasuk rokok elektronik, tidak aman untuk kesehatan. Studi di Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa ada peningkatan angka keracunan pada anak setelah adanya rokok elektrik," | dr Wahyuni Indawati SpA dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

"Industri rokok mengetahui bahwa anak-anak mudah dipengaruhi dan belum memiliki kemampuan menentukan keputusan seperti orang dewasa. Mereka pun membuat kampanye yang menyenangkan untuk anak muda, seperti mengadakan acara menarik di event olahraga dan kesenian serta membagikan sampel rokok secara gratis," | dr Wahyuni Indawati SpA dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 

Sumber: REPUBLIKA 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar