13 Juli 2017

Aa Sudah Pulang


Malam yang hening di kota ini. Sang Bunda sedang sibuk mengurus anak-anak dan rumahnya. Waktu sudah menunjukan pukul 20.00. Sudah waktunya anak-anak untuk tidur. 

"Ayo, Kakak sama Abang, tolong kunci-kunci pintu ya! Pintu gerbang, pintu dapur, semuanya!" 

Ade -walau tidak disuruh- ikut mendengar apa yang Bunda katakan kepada Kakak dan Abang. Dia berpikir sejenak, lantas berteriak panik. "Tunggu, Kak! Tunggu sebentar!" Kakak terdiam. Tidak tahu apa yang ada di pikiran si Ade. Bunda bertanya, "Lho, kenapa De?" 

"Bunda! Aa mana? Aa belum pulang! Kita harus tunggu Aa, Bunda!" 

Bunda, Kakak dan Abang tertegun. Tidak menyangka bahwa Ade akan berucap seperti itu. Bunda hanya mampu menatap Ade dengan mata berkaca-kaca. Kemudian, seraya memeluk Ade, Bunda berkata, "Ade. Aa sudah pulang, kok."
* * * * *
"Dor dor dor!" Suara tembakan sahut-menyahut di kota itu. Deru mesin pesawat menraung-raung di angkasa. Dentuman bom menggelegar memecah keheningan. 

"Aa! Kita tidak bisa diam saja di tempat ini! Penduduk lain sedang berupaya mengungsi. Kita harus ikut!" 

Seorang pemuda bernama Fulan berseru kepada Aa. Ya, Aa sedang berada di kota itu. Kota para pejuang. Kota para syuhada. Tentara zionis sedang menyerang. Memaksa para penduduk untuk mengungsi. 

"Tidak! Tidak sekarang, Fulan! Kalau bukan kita yang menjaga daerah ini, maka rakyat di belakang kita tidak akan selamat dalam upaya pelarian mereka!" 

Aa menolak ajakan Fulan. Dia adalah tentara yang sedang berjuang di kota itu. Ia meninggalkan Bunda, Kakak, Abang dan Ade di kota kelahirannya. "Menjadi syuhada adalah impian tertinggiku, Bunda." Itu yang dia ucapkan saat izin untuk pergi berjuang. 

Fulan sejenak bimbang. Akhirnya dengan tekad yang dikuatkan, ia memutuskan untuk bergabung bersama Aa. Menjaga garis depan. Agar menyelamatkan rakyat yang sedang berada di dalam pelarian. 

"Allahu Akbar! Laa ilaaha illa Allah!" Fulan dan Aa berseru mengumandangkan takbir dan tahlil. Menembakkan mitraliurnya ke arah musuh. 

Satu per satu musuh tumbang oleh tangan Aa dan Fulan. Kelompok musuh yang melihat teman-temannya tewas pun bergidik ngeri melihat kekuatan bertarung mereka. 

Tiba-tiba, tanpa diketahui Aa dan Fulan, pemimpin kelompok musuh yang sedang mereka hadapi, menarik mundur pasukannya. "Pergi! Tinggalkan tempat ini! Tinggalkan mereka berdua di sini!" 

Aa dan Fulan kebingungan dengan tindakan musuh. Dalam pertarungan ini, tidak biasanya musuh meninggalkan medan pertempuran dengan amat tergesa-gesa dan tanpa tanda menyerah. 

Saat mereka terdiam itulah, dari kejauhan terdengar gemuruh yang membelah langit. Aa dan Fulan tidak tahu dari arah mana datangnya suara itu. Sekonyong-konyong, suasana berubah hening. Kilatan cahaya menusuk pandangan mereka. Menyisakan gelap yang sempurna. 

* * * * *

Sambil memeluk Ade, Bunda menyuruh Kakak dan Abang untuk kembali mengunci pintu. Setelah itu, Bunda mengumpulkan anak-anaknya. Memeluk mereka semua. Bunda tahu, mereka masih terlalu kecil untuk memahami. Bahwa Aa, sudah benar-benar pulang. [azfiz]