5 Februari 2017

Rokok Elektronik Berbahaya Bagi Kesehatan

Tangerang Selatan - Ratusan sivitas akademika dari berbagai institusi menghadiri Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat "Electronic Nicotin Delivery System (ENDS): It Ends Your Life Slowly" yang diselanggarakan oleh mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat, di Aula Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta pada Sabtu, 4 Februari 2016. 

 
Koordinator Acara Seminar Nasional, Balqis Hafidhah, mengungkapkan bahwa seminar ini diselenggarakan karena adanya keresahan terhadap tren rokok elektronik. Rokok elektronik dianggap sebagai sesuatu yang normal oleh masyarakat, bahkan dianggap lebih gaul dari rokok biasa. "Kami berharap dengan adanya seminar ini terjadi perubahan sikap dan perilaku masyarakat, bahwa rokok elektronik pada dasarnya tidak sama sekali lebih aman dari rokok biasa dan mau berhenti serta berperilaku hidup sehat," ungkap Balqis. 



Agenda diawali dengan keynote speech dari dr. Theresia Sandra Diah Ratih, M.HA yang mewakili Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Beliau mengungkapkan kekhawatiran tren kenaikan prevalensi perokok anak dan remaja di Indonesia. "Peningkatan jumlah perokok anak akan membuat bonus demografi menjadi bencana demografi," ungkapnya. Beliau berharap kepada teman-teman generasi muda untuk menjadi agen perubahan bagi lingkungannya; dimulai dari merubah kebiasaan orang merokok dengan mengajak untuk berhenti merokok. 

 
Narasumber pertama, Dr. Farrukh Qureshi dari WHO menyampaikan penjelasan akan dampak dari pemakaian rokok elektronik. Sebagaimana berbahayanya rokok biasa, rokok elektronik juga memiliki kandungan nikotin yang bersifat adiktif dan dapat meracuni tubuh. Selain itu, tidak terdapat cukup bukti untuk mengatakan bahwa rokok elektronik efektif sebagai alat untuk berhenti merokok. Juga sudah banyak berita yang melaporkan kecelakaan yang disebabkan oleh meledaknya rokok elektronik.

Dalam sisi regulasi, penggunaan rokok elektronik juga dapat mengintervensi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok yang sudah ada. Bahkan penggunaan rokok elektronik nampak sebagai legitimasi untuk menormalisasi kebiasaan merokok. Dr. Farrukh menyampaikan, WHO menyarakan kepada pemerintah sebagai pengambil kebijakan untuk melakukan pengendalian terhadap rokok elektronik; beberapa di antaranya dengan cara menghentikan iklan dan promosinya, melarang klaim tanpa bukti akan kebaikan kegunaannya bagi kesehatan serta penerapan pajak bagi rokok elektronik tersebut. "Negara-negara Gulf Countries sudah banyak melakukan pelarangan peredaran rokok elektronik," ungkap beliau. 

 
Narasumber kedua, Dra. Dewi Prawitasari Apt. M.Kes dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menyampaikan bahwa pihaknya saat ini sedang mengembangkan alat untuk dapat mendeteksi lebih tepat apa saja bahan-bahan yang terkandung dalam rokok elektronik. Selain itu pula, rokok elektronik berpotensi untuk disalahgunakan dengan memasukan niktoin berlebih atau bahan ilegal seperti mariyuana, heroin dan sejenisnya. Di Asia Pasifik, rokok elektronik dilarang beredar di Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Thailand. "Di Indonesia, pemerintah masih membahas penyusunan regulasi yang tepat terkait rokok elektronik," paparnya. 

 
Narasumber ketiga, Munayah Fauziah, S.KM, M.Kes dari Universitas Muhammadiyah Jakarta menyorot ketersediaan yang begitu mudah untuk mendapatkan rokok elektronik di toko-toko online; di mana banyak klaim-klaim sepihak yang menyatakan bawha rokok elektronik lebih sehat dari rokok biasa. Beliau juga menyampaikan bahwa rokok elektronik bukanlah solusi tepat untuk terapi berhenti merokok. "Satu-satunya cara terbaik untuk berhenti merokok adalah dengan melepaskan diri sepenuhnya dari rokok," jelasnya.

Salah seorang peserta, Elfi Handayani yang berasal dari UIN Syarif HidayatullahJakarta, mengaku senang bisa menghadiri Seminar Nasional ini. "Saya senang karena bisa mendapatkan informasi-informasi yang benar dari para ahli terkait apa dan bagaimana rokok elektronik itu," ungkapnya. Acara juga dimeriahkan dengan hiburan stand up comedy dan pembagian doorprize.