18 Desember 2016

Firdaus Fikri, Nyatanya Pemimpin

Saat itu hari Jumat, ketika saya bertemu dengan Daus di Masjid Al-Jamiah Student Center (SC). Padahal, Daus kuliah di FKIK. Cukup jauh dari SC.

Ternyata, beliau sedang mengurus berkas untuk mendaftar menjadi Calon Ketua DEMA Universitas, UIN Jakarta.

Saya merasakan sebuah kegembiraan saat mendengar kabar itu. Bukan apa-apa, saya cukup kenal dengan Daus ini.





Awal-awal pertemuan saya dengannya adalah saat para mahasiswa kesehatan, berunjuk rasa menentang penyelenggaraan World Tobacco Process Machinery. Saya meliput kegiatan aksi tersebut. Daus yang saat itu menjabat sebagai Ketua DEMA FKIK menjadi peserta aksi.

Saya melihat dedikasinya yang tinggi bagi masyarakat. Bahkan ia sempat menjadi korban pemukulan oleh aparat keamanan. Tapi itu semua tak menyurutkan langkahnya untuk membela kesejahteraan masyarakat.

Setelahnya, banyak kesempatan lain saya bertemu dengan Daus. Dan di setiap kesempatan itulah, saya melihat Daus sebagai orang yang amanah dan memiliki integritas.

Kurang lebih, inilah kenapa saya gembira saat mendengar kabar Daus mencalonkan diri menjadi Ketua DEMA-U. Dan alhamdulillah, kabar tersebut saya dapatkan dari dirinya langsung, bukan dari orang lain.

Maka atas kegembiraan itulah, saya ingin menyampaikan suara dukungan saya kepada Daus melalui blog ini.

Kenapa kali ini saya bersuara untuk mendukung Daus (dan pasangannya, Fikri) dalam Pemira di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?

Padahal saya bukan tim kampanye. Saya juga tidak paham urusan pendaftaran calon dan sebagainya. Saya hanya kenal saja dengan Daus dan Fikri. Utamanya sih, Daus.

Saya juga sudah tidak punya hak untuk nyoblos saat Pemira nanti. Lalu kenapa saya ikut-ikutan menyuarakan dukungan?

Saya belum pernah menyatakan secara jelas keberpihakan saya terhadap satu pasangan calon dalam Pemira sebelumnya. Terkhusus untuk pasangan calon dari Dema-U.

Walau pun begitu, saya percaya bahwa hal seperti ini adalah penting. Maka dari itu saya tidak pernah absen untuk memberikan suara saya alias mencoblos dalam Pemira.

Saya melihat bahwa Pemira adalah salah satu proses untuk kehidupan mahasiswa yang lebih baik. Salah satu proses untuk menuju perubahan yang positif.

Kali ini saya berpikir. Saat saya sudah tidak bisa mencoblos lagi. Lalu apa yang bisa saya lakukan? Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi bagian dari perubahan?

Bukan bermaksud sok, tapi memang begitu adanya, saya senang aktif di media sosial. Dan media sosial sesungguhnya, adalah tempat untuk berbagi pemikiran dan ide. Maka kali ini, saya gunakan fungsi tersebut untuk berbagi opini terkait Pemira.

Akhirnya saya mengambil sikap, yaitu untuk menyuarakan dukungan terhadap pasangan calon yang saya dukung. Dan saya bersuara untuk mendukung Daus dan Fikri dalam memimpin DEMA Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jadi guys, ayo berpikir jernih.

Apa iya, calon Ketua dan Wakil Ketua DEMA-U yang kalian dukung, bisa memimpin DEMA-U seenak dan sesegar setepat dan sebaik Firdaus-Fikri?

Belum tentu juga kan?

Menurut kamu tulisan saya ga penting, tapi nyatanya kamu baca tulisan saya sampai sini.

Dan sekarang kamu jadi yakin dan pengen mendukung Firdaus-Fikri.

Firdaus-Fikri, nyatanya nyegerin pemimpin.