1 September 2016

Ada Apa dengan Popcon Asia 2016?

Popcon Asia 2016. Yey! Apakah kamu pernah ke acara Popcon Asia sebelumnya? Pasti seru ya! Kita bisa bertemu dengan komikus-komikus kesukaan kita. Memborong official merchandise dari para artis. Bertemu atau bahkan bercosplay! 

Sudah sekian tahun aku menginginkan untuk bisa hadir ke Popcon. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa hadir di Popcon Asia 2016 yang diselenggarakan di Jakarta Convention Centre pada 12-14 Agustus lalu. 




Namun apa jadinya jika ada hal yang "merusak" kebahagiaan tersebut? Ini yang aku rasakan.



Sebenarnya pada awalnya aku tidak mengira bisa hadir ke Popcon. Aku pikir, "Ah. Kayaknya skip lagi deh tahun ini." 

Tapi pada hari Ahad, 14 Agustus 2016 itu, aku diajak oleh Bunda Lisda untuk ke Popcon bareng-bareng. "Wah! Asyik nih ada Bunda!" pikirku. 

Bunda adalah mentorku sebagai Pembaharu Muda. Akhirnya, tanpa ragu, aku sekalian menghubungi Cory Selviana Devi. Partnerku dalam berbagai kegiatan di No Tobacco Community. "Cory, kita ke Popcon, yuk! Bunda ngajakin nih!" ajakku kepada Cory. 

Sebenarnya aku bukan mengajak Cory seorang. Tapi aku ngajak teman-teman di group chat. Namun, yang merespon mau ikutan, ya Cory. Tyo (salah satu partnerku yang lain) juga mau ke Popcon katanya. "Sip lah. Bisa ramean ke sana," pikirku. 

Singkat cerita, kami janjian hadir ke Popcon. Bunda secara spesifik mengatakan ingin mengikuti agenda Press Conference Si Juki The Movie. Aku, selain kepo juga sama Si Juki, ya tentunya memang sudah penasaran sejak lama ingin ke Popcon. Begitu pun dengan Cory dan Tyo. Kami berangkat terpisah. Janjian bertemu di tempat. 

Sepanjang perjalanan menggunakan bis kota, aku merasakan sensasi ketertarikan dan kesenangan yang kuat. Namun begitu sampai di arena Popcon Asia 2016, ada sebuah kenyataan yang bikin aku galau. 

Ternyata, ada sebuah "lembaga" besutan industri rokok yang menjadi sponsor acara tersebut. "Lho. Lho. Lho. Kok?!" 

Aku galau. Keterlibatanku dalam kegiatan pengendalian tembakau menyadarkanku bahwa hal ini merupakan strategi industri rokok untuk menjerat anak-anak dan remaja agar merokok. Mesponsori agenda yang disukai oleh anak muda. 



Aku segera menghubungi Bunda. "Bun, kok sponsornya dari industri rokok :(," kataku. Dari obrolanku dengan Bunda, aku baru tahu bahwa memang baru tahun ini, Popcon disponsori oleh industri rokok. 

Dulu aku juga pernah menghadiri agenda-agenda yang disponsori oleh industri rokok. Namun entah kenapa, aku merasa, "Ah. Aku kan gak ikutan ngerokoknya. Aku mah ikutan acaranya. Olahraga basket," ujarku dulu. Tapi berbeda dengan saat ini. Aku terduduk di depan pintu masuk Popcon kurang lebih 1 jam. Memikirkan dilema saat ini. 

"Itu karena kamu saat ini sudah memiliki kesadaran," ujar Bunda. 

Ya. Sekarang aku sadar betul. Bahwa praktik industri rokok mensponsori berbagai kegiatan adalah salah satu usaha mereka untuk mendapatkan citra baik di masyarakat. Menjadi usaha mereka untuk meraih simpati masyarakat. Sehingga semakin memudahkan tujuan utama mereka. Meningkatkan produksi rokok. 

Mungkin banyak dalih yang menyatakan, "Ah! Ini kan berbeda dengan industri rokoknya. Ini kan yayasan. Lagian kita gak jual rokok. Gak bagi-bagi rokok." Tapi memang itulah kenyataannya. Di berbagai negara pun, industri rokok mendirikan yayasan-yayasan dengan nama perusahaan untuk menjalankan kegiatan CSRnya. 

Aku kembali bingung dan bertanya kepada Bunda, "Jadi aku harus gimana, Bunda? Kalau pun hadir, aku kan hanya pengunjung biasa?" 

Bunda mengatakan, "Bunda ingin membandingkan bagaimana acara ini saat tidak disponsori oleh industri rokok dengan saat ini disponsori oleh industri rokok." ujarnya. "Kamu bisa bikin artikel yang menceritakan ketidaknyamananmu menghadiri acara Popcon Asia karena disponsori industri rokok," begitu kata Bunda. 

Ya! Akhirnya aku mendapat pencerahan. Aku akan mengikuti saran Bunda. Maka hadirlah tulisan ini sebagai 'penebus' kehadiranku menghadiri agenda yang saat ini disponsori oleh indsutri rokok. 

Akhirnya aku pun mengantri tiket bersama CIML. Ya, kalau kamu tahu Akhwat Bomber terkenal yang bernama CIML itu, aku satu antrian dengannya. Oke skip deh. Salah fokus malah jadi ngomongin artis. #peace. 

Aku pun akhirnya menjejakan kaki ke dalam arena Popcon Asia 2016. Selain bertemu Bunda dan Cory, aku juga bertemu Kak Agung dan Kak Fara. Tyo ternyata tidak jadi datang. Akhirnya kami bertekad untuk tidak hanya menikmati rangkaian agenda di dalamnya. Tapi juga mencoba menggali, seperti apa keterlibatan industri rokok di agenda Popcon Asia. Kenapa bisa ujug-ujug industri rokok mensponsori acara Popcon. 

Di dalam, kami menemukan booth mereka. Ternyata, mereka baru saja mendanai pembangunan studio animasi di sebuah SMK di Kudus, Jawa Tengah. Studio animasi tersebut pun saat ini sedang mengerjakan proyek film layar lebar. Seorang artis muda berbakat pun ditunjuk untuk mengisi soundtracknya. 




Dari perbincangan kami dengan pihak booth, diketahui bahwa jurusan animasi itu masih baru. Dan pembukaannya pun dibantu oleh industri rokok. Dibantu pengadaan studio animasinya juga. Sampai saat ini, mereka anak-anak kelas 2 SMK itu bisa mengerjakan proyek film animasi layar lebar. 

Yup. Pendidikan. Pendidikan adalah salah satu sektor yang serius digarap oleh industri rokok. Tidak hanya satu. Tapi banyak industri rokok menggarap sektor ini. Banyak beasiswa mereka gelontorkan untuk pelajar dan mahasiswa. Banyak sekolah dan kampus yang dibantu oleh mereka. 

Aku nggak mau menyalahkan teman-teman yang ikut beasiswanya. Aku juga punya teman yang ikut beasiswa dari salah satu industri rokok. Namun tetap, kita harus menyadari bahwa ini adalah taktik industri rokok untuk meraih simpati masyarakat. Dengan tujuan akhirnya adalah meningkatkan produksi rokok. 

Aku yakin teman-teman yang membaca tulisanku ini sudah banyak yang paham seberapa berbahayanya rokok bagi kesehatan. So, aku gak akan jelaskan tentang itu di sini. 

Lalu? Apa yang bisa kita lakukan? 

Senada dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak, aku merekomendasikan pemerintah untuk melarang iklan, promosi dan sponsor rokok secara menyeluruh melalui sebuah regulasi yang kuat dan berperspektif perlindungan anak untuk melindungi anak-anak dan remaja dari eksploitasi industri rokok. 

Semua pihak agar kritis dan waspada terhadap kegiatan CSR industri rokok, karena tujuan industri rokok adalah meningkatkan konsumsi rokok. Bertentangan dengan kebijakan kesehatan masyarakat yaitu mengurangi konsumsi tembakau. 

Mendorong private sector lainnya untuk mengambil peran sebagai sponsor alternatif bagi kegiatan konser musik, olah raga, seni budaya dan sebagainya. 

Mendorong pemerintah untuk meratifikasi Konvensi International tentang pengendalian tembakau sebagai bentuk jaminan perlindungan anak dari eksploitasi industri rokok. Dalam hal ini, Framework Convention on Tobacco Control (Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau). 

Akhir kata, semoga Popcon Asia selanjutnya tidak lagi disponsori oleh industri rokok. Amin.