13 Juni 2016

Surat Dukungan untuk DEMA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Assalamualaikum wr wb

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah swt, Tuhan Semesta Alam. Shalat serta salam kita haturkan kepada nabi Muhammad saw.

Pada tanggal 8 dan 9 Juni 2016, bertepatan dengan 3 dan 4 Ramadhan 1437, saya menulis serangkaian tweet melalui akun @azfiz di Twitter yang menolak agenda yang disponsori oleh industri rokok di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya menolak keterlibatan industri rokok di dalam acara yang diselenggarakan oleh DEMA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (DEMA-U).

 
 
Namun sayangnya, saya dapat kabar dari beberapa teman, bahwa ada teman-teman yang salah paham. Beberapa mengira saya menuduh DEMA-U mengadakan acara yang membagi-bagikan rokok. Ada juga tweet-tweet yang protes kenapa saya mempermasalahkan agenda bukber (buka [puasa] bersama), padahal bukbernya bukan agenda bagi-bagi rokok. Kemudian juga ada yang protes kenapa saya menggunakan tagar #SuarakanKebenaran, seakan-akan saya orang suci dan paling benar di antara teman-teman lainnya. Bahkan sampai ada komentar-komentar yang meluas, mengaitkan dengan keberadaan beasiswa dari industri rokok.

Pada tanggal 9 Juni 2016 / 4 Ramadhan 1437, saya sudah berinisiatif untuk silaturahim ke Sekretariat DEMA-U. Saya berniat menyampaikan lebih jelas, apa yang saya maksudkan dalam tweet-tweet saya di malam sebelumnya. Namun sayangnya, saya belum berkesempatan bertemu dengan Presiden DEMA-U. Tapi saya tetap sampaikan apa maksud dan tujuan saya kepada teman-teman pengurus DEMA-U yang ada di sekretariat pada saat itu. Maka hari ini (10 Juni 2016 / 5 Ramadhan 1437), saya inisiatifkan menulis surat ini. Menyampaikan apa maksud sebenarnya terkait tweet-tweet saya. Juga menyampaikan dukungan saya kepada DEMA-U.

Apa yang sebenarnya saya protes? Hal yang saya protes sebenarnya adalah adanya keterlibatan DCDC di dalam acara tersebut. Dari mana saya bisa tahu hal ini? Saya mendapatkan sebuah poster yang memublikasikan acara “DCDC Ngabuburit Goes to Campus”[1]. Ternyata acara tersebut disebutkan bertempat di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Direncanakan berlangung tanggal 9 Juni 2016 dan menampilkan Special Guest 4Presiden: Budi Dalton, Pidi Baiq, Man Jasad, dan Zastrouw Al Ngatawi. Ada juga Anji, Melly Mono, Budi Cilok, dan Eddi Brokoli.

 
 
Acara “DCDC Ngabuburit Goes to Campus” ini, ternyata mempunyai kesamaan isi dengan acara “Ngabuburit on Campus. Talkshow bersama 4Presiden” dengan tema ‘Jangan berisik, sampaikan amanah bukan amarah”[2] yang diselenggarakan oleh DEMA-U dan juga dalam jadwal pelaksanaan yang sama, yaitu 9 Juni 2016. Dalam publikasi dan poster acara DEMA U tersebut memang sama sekali tidak terdapat pencantuman ‘DCDC’ di dalamnya. Saya baru yakin sekali acara ‘Ngabuburit on Campus’ ini adalah sama dengan acara ‘DCDC Ngabuburit Goes to Campus’ saat melihat reklame dan banyak banner publikasi acara ini di sekitar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Reklame dan banner ini mempublikasikan acara “DCDC Goes to Campus” dengan menampilkan logo DEMA-U. Selain itu, Contact Person yang tercantum dalam publikasi acara DEMA-U “Ngabuburit on Campus” dan publikasi acara “DCDC Ngabuburit Goes to Campus” adalah sama, yaitu “Pasha 085693183411”.

 
 
 
DCDC, beralamat situs di www.djarumcoklat.com, terlihat mempunyai hubungan dengan industri rokok Djarum. Tertulis di halaman website www.djarum.co.id, Djarum Coklat merupakan brand domestik dari Djarum[3]. Tertulis di halaman website Djarum, “The taste of excellence. Djarum Coklat is made using only mature tobacco, top grade Srintil tobacco and tree-matured cloves. Blended according to a recipe passed down through generations over 120 years”. Deskripsi produk ini seperti tertulis di halaman website Djarum, “This hand-rolled, unfiltered kretek cigarette blends together top grade Srintil tobacco and tree-ripened cloves, enhanced by a time tested Kudus recipe that results in the uniquely delicious essence and fragrant aroma of Djarum Coklat. It was the first kretek cigarette in the world to incorporate a flavor seal, locking in the taste until the moment of enjoyment. First launched in 1972, to this day Djarum Coklat remains the best selling hand-rolled cigarette in West Java. An enduring bestseller that provides long lasting satisfaction”.

Selain itu, halaman website www.djarum.co.id juga menampilkan Brand Activity dari Djarum Coklat. Salah dua dari kegiatannya adalah Djarum Coklat Ngabuburit dan Djarum Coklat Sahur Nikmat on The Road. Agenda Ngabuburit dan Sahur Nikmat on The Road tersebut juga tercantum di website www.djarumcoklat.com. Hal-hal tersebutlah yang meyakinkan saya, bahwa “DCDC Ngabuburit Goes to Campus” ini adalah agenda dari industri rokok.

Maka, seperti yang sudah saya sebutkan dalam tweet-tweet tersebut, saya mendukung dibatalkannya agenda dari industri rokok itu. Saya juga mendukung DEMA-U untuk mewujudkan pembatalan tersebut. Saya mendukung kegiatan-kegiatan di UIN Syarid Hidayatullah Jakarta terbebas dari keterkaitan dengan industri rokok.

Kenapa? Sesuai dengan temuan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak, kegiatan semacam itu adalah salah satu strategi industri rokok untuk menggiring anak-anak dan remaja menjadi perokok pemula. Dengan mensponsori berbagai kegiatan di masyarakat, industri rokok memanfaatkannya sebagai strategi kunci untuk membangun brand image dan mempertahakan legitimasi industri rokok di masyarakat[4].

Sebagai sebuah institusi pendidikan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah “Kawasan Tanpa Rokok / Kawasan Bebas Rokok” yang sesuai dengan Kode Etik Mahasiswa yang tercantum dalam Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor Un.01/R/HK.005/12/2012. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga termasuk dalam Kawasan Tanpa Rokok karena masuk dalam kategori tempat proses belajar mengajar sebagaimana tercantum dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Maka dari itu, sesuai dengan PP Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengaman Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, Kawasan Tanpa Rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau.

Melihat kembali publikasi acara DEMA-U “Ngabuburit on Campus”, saya percaya bahwa memang tidak akan ada kegiatan bagi-bagi rokok/promosi produk tembakau di dalamnya. Saya sangat mendukung kegiatan Talkshow dan berbagi takjil gratis. Namun, melihat dari reklame dan banner yang terpampang di sekeliling UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sulit untuk mengatakan bahwa acara DEMA-U “Ngabuburit on Campus” ini tidak memiliki keterkaitan dengan acara “DCDC Ngabuburit Goes to Campus”. Mulai dari adanya logo DEMA U dalam publikasi “DCDC Ngabuburit Goes to Campus” di sekitar kampus sampai kesamaan Contact Person dalam acara DEMA-U “Ngabuburit on Campus” dan “DCDC Ngabuburit Goes to Campus”.

 
 
Maka dari itu, sesuai dengan yang Komisi Nasional Perlindungan Anak sebutkan bahwa, “Iklan, promosi dan sponsor rokok adalah strategi yang dilakukan industri rokok untuk menggiring anak-anak dan remaja menjadi perokok permula,”[5] serta bahwa, “Praktik CSR yang dilakukan industri rokok bertujuan untuk membangun “citra baik” perusahaannya di mata masyarakat, pemerintah dan pembuat kebijakan,”[6] saya mendukung DEMA-U untuk membatalkan agenda dari industri rokok di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya mendukung DEMA-U untuk mengadakan agenda bagi teman-teman mahasiswa yang terbebas dari keterkaitan dengan industri rokok.

Komisi Nasional Perlindungan Anak juga menyebutkan bahwa pada Sidang Ijtima’ Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2009 telah mengeluarkan fatwa haram merokok (bagi anak-anak, wanita hamil dan di tempat umum) serta mengeluarkan rekomendasi untuk melarang iklan, promosi dan sponsor rokok baik langsung maupun tidak langsung[7]. Sebagai sebuah Universitas Islam Negeri, sudah barang tentu kita harus mendukung fatwa dan rekomendasi dari MUI tersebut.

Seperti yang saya sebutkan berkali-kali, tujuan saya adalah untuk mendukung DEMA-U membatalkan agenda dari industri rokok di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menyelenggarakan kegiatan/agenda bagi mahasiswa yang terbebas dari keterkaitan dengan industri rokok.

Saya juga ingin mengajak seluruh sivitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mendukung janji dari Presiden dan Wakil Presiden DEMA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Al-Darda dan Ova Siti Sofwatul Ummah, yang berencana membuat kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bebas dari rokok[8]. Sebagaimana tercantum dalam berita yang dimuat oleh LPMINSTITUT.COM pada 18 Desember 2015, “Mereka juga berjanji membuat kampus UIN Jakarta bebas dari rokok. ‘Kami akan membuat tim investigasi untuk mencari pelanggar,’ paparnya. Hal tersebut mereka lakukan demi mewujudkan kampus UIN Jakarta yang bersih.” Saya juga ingin mendukung Serta visi-misinya yang sangat berpedoman kepada Al-Quran dan As-Sunnah[9].




Suarakan Kebenaran

Beberapa kabar juga masuk ke saya, bahwa banyak yang mempertanyakan, “kenapa menggunakan tagar dengan kata-kata Suarakan Kebenaran” dalam tweet-tweet saya. Suarakan Kebenaran adalah kampanye yang digagas oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2016[10]. Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia melihat bahwa, “Bahaya mengkonsumsi tembakau dan merokok terhadap kesehatan merupakan sebuah kebenaran dan kenyataan yang harus diungkapkan secara sungguh-sungguh kepada seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat benar-benar memahami, menyadari, mau dan mampu menghentikan kebiasaan merokok dan menghindarkan diri dari bahaya akibat asap rokok. Selama ini, masyarakat telah terbuai dengan propaganda dan iklan rokok yang aduhai. Padahal itu tidak lebih dari sebuah kebohongan yang terus diulang-ulang, sehingga menjadi diyakini dan terinternalisasi dalam diri”[11]. Karena tweet-tweet saya berfokus pada Pengendalian Tembakau, maka saya gunakanlah tagar #SuarakanKebenaran.



Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum)

Banyak juga komentar-komentar –yang sebenarnya meluas dari pesan yang saya sampaikan- yang bertanya kepada saya, “bagaimana dengan beasiswa dari Djarum?”. Maka di sini saya sampaikan seperti yang ditulis oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak bahwa, “CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan strategi kunci untuk membangun brand image dan mempertahankan legitimasi industri rokok di masyarakat, selain iklan, promosi dan sponsor. Seperti di negara lain, industri rokok di Indonesia juga mendirikan yayasan dengan nama perusahaan seperti Djarum Foundation dan Putra Sampoerna Foundation, untuk menjalankan kegiatan CSR-nya. Biasanya bekerjasama dan melibatkan instansi pemerintah, pejabat, Lembaga Swadaya Masyarakat, sekolah, universitas, tokok masyarakat, artis, budayawan baik di daerah atau di pusat[12]”. Beasiswa adalah salah satu kegiatan CSR versi industri rokok.



Sikap saya terhadap teman-teman yang mengikuti beasiswa dari industri rokok, saya tidak mau mempermasalahkannya. Namun saya tetap berpendirian, ada baiknya bagi kita untuk menghindari kegiatan CSR semacam itu. Ada baiknya bagi kampus-kampus untuk menghindari beasiswa dari idnustri rokok.



Saya menyetujui rekomendasi dari Komisi Nasional Perlindungan Anak untuk mengajak semua pihak agar kritis dan waspada terhadap kegiatan CSR industri rokok, karena tujuan industri rokok adalah meningkatkan konsumsi rokok bertentangan dengan kebijakan kesehatan masyarakat yaitu mengurangi konsumsi tembakau; serta mendorong private sector lainnya (termasuk pemerintah dan institusi lain) untuk mengambil peran sebagai sponsor alternatif bagi kegiatan konser musik, olah raga, budaya dan sebagainya termasuk beasiswa[13].



Akhir kata, semoga tidak ada lagi kesalahpahaman di antara teman-teman terhadap apa yang saya suarakan. Saya juga bukan orang yang suci. Bulan Ramadhan-lah yang suci. Saya justru orang yang harus terus bertaubat dan meminta ampunan dari Allah swt, apalagi dalam momentum bulan Ramadhan Yang Mulia ini.

 
Salam Hangat, BAGJA NUGRAHA, Mahasiswa BSA-FAH Angkatan 2011.


CATATAN KAKI


[1]http://www.djarumcoklat.com/agenda/dcdc-ngabuburit-goes-to-campus, diakses kembali pada 10/06/2016


[2]https://www.facebook.com/photo.php?fbid=230708020648300&set=a.192362974482805.1073741829.100011273115460&type=3 diakses kembali pada 10/06/2016


[3] http://djarum.co.id/brands/domestic-brands/djarum-coklat/, diakses pada 10/06/2016


[4]Komisi Nasional Perlindungan Anak, Taktik Industri Rokok Menggiring Anak Merokok. Hasil Pemantauan Iklan, Promosi, Sponsor dan Kegiatan CSR Rokok, Maret 2012.


[5]Komisi Nasional Perlindungan Anak, Taktik Industri Rokok Menggiring Anak Merokok. Hasil Pemantauan Iklan, Promosi, Sponsor dan Kegiatan CSR Rokok, Maret 2012


[6]Komisi Nasional Perlindungan Anak, Taktik Industri Rokok Menggiring Anak Merokok. Hasil Pemantauan Iklan, Promosi, Sponsor dan Kegiatan CSR Rokok, Maret 2012


[7]Komisi Nasional Perlindungan Anak, Taktik Industri Rokok Menggiring Anak Merokok. Hasil Pemantauan Iklan, Promosi, Sponsor dan Kegiatan CSR Rokok, Maret 2012


[8]http://www.lpminstitut.com/2015/12/kenalkan-program-kerja-kandidat-lewat.html, diakses kembali pada 10/06/2016


[9]http://www.lpminstitut.com/2016/01/dema-u-siap-jadi-teladan-organisasi.html, diakses kembali pada 10/06/2016


[10]http://www.depkes.go.id/article/view/16060300002/htts-2016-suarakan-kebenaran-jangan-bunuh-dirimu-dengan-candu-rokok.html, diakses kembali pada 10/06/2016


[11]http://www.depkes.go.id/article/view/16060300002/htts-2016-suarakan-kebenaran-jangan-bunuh-dirimu-dengan-candu-rokok.html, diakses kembali pada 10/06/2016


[12]Komisi Nasional Perlindungan Anak, Taktik Industri Rokok Menggiring Anak Merokok. Hasil Pemantauan Iklan, Promosi, Sponsor dan Kegiatan CSR Rokok, Maret 2012


[13]Komisi Nasional Perlindungan Anak, Taktik Industri Rokok Menggiring Anak Merokok. Hasil Pemantauan Iklan, Promosi, Sponsor dan Kegiatan CSR Rokok, Maret 2012