13 September 2015

Pemuda Indonesia untuk Perubahan Iklim

Assalamualaikum! 
Postingan kali ini, Bagja Nugraha akan membicarakan tentang Perubahan Iklim. 

Postingan ini juga dibuat untuk menjadi essai/opini sebagai syarat mengikuti

Youth Camp on Climate Change


Penasaran? Let's check it out!


Salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan planet Bumi atau Hidup Kita adalah Emisi Karbon. Setiap detik, Emisi Karbon terbang ke atmosfir dalam jumlah yang menyebabkan perubahan iklim akan menyebabkan iklim berubah dan menghasilkan lingkungan yang buruk bagi seluruh spesies di muka Bumi, termasuk manusia.

Sebagai satu-satunya Badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB/UN) yang dibentuk oleh perjanjian internasional dalam menghalau perubahan iklim, Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perseringkatan Bangsa-Bangsa atau disebut juga United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) berkumpul setiap tahun untuk merencanakan solusi yang dapat mencegah iklim yang memburuk. Banyak usaha telah dilakukan untuk mengurangi perubahan iklim. Dari Kyoto Protokol sampai Bali Action Plan, UNFCCC mempunyai target untuk mengurangi emisi karbon pada 2020.

A.     Arti Penting Perubahan Iklim

Lingkungan dan iklim mempunyai dampak bagi seluruh aspek kehidupan kita yang melingkupi urbanisasi, ekonomi dan pembangunan, teknologi, pangan dan agrikultur, sumber air, kesehatan, bahkan turisme.

Indonesia terletak di antara 6˚08’ Lintang Utara sampai 11˚15’ Lintang Selatan, dan 94˚45’ sampai 141˚05’ Bujur Timur. Negara Indonesia menutupi wilayah selua 790 juta hektar, dengan total garis pantai sepanjang 81.000 km dan teritorial darat sekitar 200 juta hektar. Indonesia mempunyai 5 pulau besar utama (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya) dan sekitar 13.667 pulau kecil, yang lebih dari setengahnya (56%) tidak bernama dan hanya 7% yang dihuni secara permanen. Dataran pesisir yang luas dan daerah pegunungan dengan tinggi 1.000m di atas permukaan laut merupakan karakteristik dari pulau Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. Dari 200 juta hektar wilayah daratan, sekitar 50 juta hektarnya dikhususkan untuk berbagai kegiatan pertanian. Ada hampir 20 juta lahan, dimana sekitar 40%-nya adalah lahan basah (contoh, sawah), 40 % adalah lahan kering, dan 15% adalah ladang berpindah.

Iklim di Indonesia didominasi oleh angin musin, yang memberikan tingkat homogenitas bervariasi sepanjang wilayah ini. Indonesia terletak di kisaran Convergence Zona Inter-Tropis (ITCZ) dimana di sisi timur laut dan tenggara merupakan daerah angin mati. Gerak naik kuat, langit mendung, badai kuat, hujan deras dan badai petir dengan intensitas bervariasi adalah karakteristik dari wilayah ini.

Pola curah hujan di Indonesia terdiri dari tiga macam (Boerema, 1938). Jenis pertama ialah musim hujan dengan puncak hujan bulanan pada bulan Desember. Kedua adalah pola hujan yang lebih terlokalisasi di ekuator timur Indonesia dengan puncak curah hujan bulanan pada Juli – Agustus. Ketiga adalah curah hujan ekuatorial yang ditandai dengan dua curah hujan bulanan pada bulan Maret dan Oktober.

Secara keseluruhan, ketiga jenis curah hujan di Indonesia ini menghasilkan musim hujan yang bervariasi lamanya dari 280-300 hari atau paling singkat 10-110 hari, dengan variasi curah hujan berkisar 4.115 mm sampai 650 mm. Variabilitas curah hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ENSO (El Nino Southern Oscillation). Dampak ENSO pada curah hujan lebih terasa saat musim kemarau daripada musim hujan. Berbagai studi tentang pengaruh ENSO pada variabilitas curah hujan antar-tahunan di Indonesia mengungkapkan pola sebagai berikut: (i) musim kemarau berakhir lebih lambat dari biasanya saat El Nino dan lebih cepat saat La Nina, (ii) musim hujan muncul lebih lambat saat El Nino dan lebih cepat saat La Nina, (iii) penurunan curah hujan yang signifikan bisa diperkirakan saat El Nino dan pengingkatan yang signifkan pula saat La Nina, (iv) musim kemarau yang panjang terjadi selama musim hujan, khususnya di Indonesia Timur. Lebih lanjut, selain menyebabkan curah hujan yang bervariasi, efek ENSO itu sendiri bervariasi. Efek ENSO sangat kuat di daerah yang dipengaruhi oleh iklim muson, lemah di daerah khatulistiwa, dan tidak dapat diprediksi di daerah yang dipengaruhi cuaca lokal.

Masalah yang sering terjadi dan berkaitan dengan perubahan iklim biasanya terletak pada isu banjir dan kekeringan. Dengan wilayah Indonesia yang sangat dipengaruhi ENSO, maka perubahan iklim ke arah yang buruk bisa dipastikan akan membawa masalah bagi Indonesia.
Beras adalah makanan utama di Indonesia. Data historis menunjukan bahwa perubahan iklim dapat mempengaruhi tingkat produksi beras dan pola bercocok tanam di Indonesia. Begitu pula dengan sumber air. Banjir atau kekeringan akan menjadi hal yang buruk bagi Indonesia. Dampak dari perubahan iklim di bidang perhutanan akan berpengaruh pada persediaan air tanah. Salah satu ancaman dari efek perubahan iklim yang terjadi pada bidang ini ialah kebakaran hutan. Dalam bidang maritim, efek perubahan iklim akan terasa mengenai pengelolaan ekonomi dan keanekaragaman hayati. Pemutihan terumbu karang (Coral Bleaching), atau pemanasan dan peninggian air laut bsia menjadi masalah serius bagi Indonesia. Bidang kesehatan juga dapat terdampak efek perubahan iklim. Penyakit akan lebih mudah menjangkiti masyarakat Indonesia apabila perubahan iklim tidak segera ditangani.

B.      Hal yang Harus Disampaikan di COP 21 UNFCCC

COP 21 mempunyai salah satu target dari 17 Target untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai langkah baru seusai MDGs, yaitu “Mengambil Tindakan Segera untuk Memerangi Perubahan Iklim dan Dampaknya”.

Hal-hal yang termasuk di dalam Target ini adalah:

1.      Memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptasi terhadap bahaya terkait iklim dan bencana alam di semua negara.

2.      Mengintegrasikan langkah-langkah perubahan iklim ke dalam kebijakan nasional, strategi dan perencanaan.

3.      Meningkatkan pendidikan, peningkatan kesadaran dan kapasitas manusia dan kelembagaan pada mitigasi perubahan iklim, adaptasi, pengurangan dampak dan peringatan dini

4.      Mengimplementasikan komitmen yang dilakukan oleh pihak negara maju ke UNFCCC untuk tujuan memobilisasi bersama-sama $ 100.000.000.000 per tahun pada tahun 2020 dari semua sumber untuk memenuhi kebutuhan negara-negara berkembang dalam konteks aksi mitigasi yang berarti dan transparansi dalam implementasi dan sepenuhnya mengoperasionalkan Green Climate Fund melalui kapitalisasi sesegera mungkin.

5.      Mempromosikan mekanisme untuk meningkatkan kapasitas untuk perencanaan terkait perubahan iklim yang efektif dan manajemen di negara-negara kurang berkembang dan pulau kecil negara berkembang, termasuk fokus pada perempuan, pemuda dan lokal dan masyarakat terpinggirkan.

Indonesia harus menunjukan usaha-usaha yang kuat untuk mencapai tujuan bersama ini. Indonesia harus mengajak negara-negara lainnya untuk sama-sama meningkatkan keseriusannya menghadapai masalah perubahan iklim. Mengacu pada Bali Action Plan, Indonesia harus bisa menjadi Pemimpin dalam mensukseskan hal tersebut.

Lakukan negosiasi-negosiasi yang dapat menguntungkan dunia dalam mengatasi perubahan iklim, namun tetap menjaga stabilitas dan posisi negara Indonesia terhadap aspek-aspek di bidang lainnya. Gandeng kerjasama dalam energi terbarukan dan transfer teknolgi dengan negara-negara yang mempunyai kapabilitas terkait hal tersebut.


Ajak seluruh dunia untuk memaksimalkan potensi pemuda-pemudanya. Mengedukasi masyarakatnya agar semua menyadari dampak perubahan iklim. Pemuda adalah pemegang panji-panji kebangkitan suatu bangsa. Maka para pemuda Indonesia harus terlibat aktif dalam isu perubahan iklim. Dengan begitu Indonesia akan mampu menghadapi perubahan iklim dengan kekuatan pemudanya. 




Sumber: Indonesia 2nd national Communication under UNFCCC dan artikel-artikel Sustainable Development Goals dalam English yang dicari menggunakan Google