27 Januari 2013

Ikhwan as-Safa



Ikhwan as-Safa adalah organisasi gerakan politik-keagamaan, didirikan pada abad ke-4 H/10 M di kota Basra. Disebut juga Bethren of Purity, Khullan al-Wafa, Ahl al-‘Adl, Abna’ al-Hamdi, atau dengan sebutan singkat Ikhwanuna, atau juga Auliya’ Allah. Organisasi ini berasal dari Syiah Ismailiah yang terlibat dalam propaganda politik secara rahasia sejak meninggalnya imam mereka, Isma’il bin Ja’far as-Sadiq, tahun 760 M. Ketika Syiah menjadi mazhab penguasa, kelompok ini muncul ke permukaan meski tetap mempertahankan kerahasiaan gerakannya. 

Ada yang mengenal kelompok ini sebagai ikatan para pemikir (intelektual) yang menyebarkan filsafat dan sains dengan cara memadukan syariat Islam dengan filsafat Yunani. Namun demikian, Ahmad Amin (sejarawan Mesir dan peneliti tasawuf) mengatakan, “Gerakan Ikhwan as-Safa adalah untuk mendukung politik rezim Bani Buwaihi.” 


Cakupan pemikiran filsafat Ikhwan as-Safa meliputi bidang-bidang berikut: 

(1) Ilmu. Aktivitas akal ada dua, ilmu dan ciptaan. Bagi Ikhwan as-Safa, seseorang bisa memiliki potensi, tetapi potensi tidak akan bisa aktual tanpa bimbingan guru. Selain itu, mereka memandang bahwa ilmu yang diketahui manusia datang dari tiga jalan: pancaindera, argumen, dan perenungan akal. Ketiga jalan ini merupakan tahapan ilmu yang sederhana dan dapat sampai kepada makrifat Allah dengan syarat Zuhud (ascetis) dan amal saleh.

(2) Matematika. Matematika adalah tahapan pengetahuan yang harus dilalui oleh seseorang yang ingin mempelajari filsafat. Mereka memandang angka-angka mempunyai makna sakral pada semua bilangan. Angka satu merupakan prinsip dasar dari segala yang baik, yang materiil atau yang maknawi. Tujuan dari ilmu hitung dan ilmu ukur adalah membimbing jiwa melepaskan diri dari yang inderawi menuju kepada yang falsafi, yaitu melihat planet-planet. Bagi Ikhwan as-Safa, bintang-bintang di langit dapat meramalkan kejadian pada masa yang akan datang. 

(3) Mantik (logika). Mantik dapat meningkatkan kemampuan jiwa dengan nalar yang tinggi untuk mencapai wujud metafisik. Dengan mantik jiwa dapat dipahami filsafat ketuhanan. Menurut Ikhwan as-Safa, jenis (genus), spesies (an-nau’), dan person (asy-syakhs) menunjuk kepada materi, sedangkan al-khaslah (perangai) dan al-‘ard (hal-hal yang melekat kepada zat) menunjuk kepada makna. Untuk dapat memahami kategori-kategori itu, diperlukan sistematika, uraian (at-tahlil), definisi (al-hadd), dan argumentasi (al-burhan).

(4) Metafisika. Ikhwan as-Safa berpendapat bahwa alam semesta adalah emanasi Tuhan melalui akal dengan rentetan (a) akal aktif, (b) jiwa universal, (c) materi pertama, (d) potensi jiwa universal, (e) materi absolut, (f) alam falak, (g) unsur-unsur alam yang lebih rendah, dan (h) objek-objek gabungan dari mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Delapan mahiyah ini ditamah dengan wujud Allah yang satu sebagai Zat Mutlak menjadi sembilan. Selanjutnya dikatakan, segala sesuatu yang berupa materi, bentuk, substansi, atau ‘ard. Substansi yang pertama adalah materi dan bentuk, dan ‘ard yang pertama adalah tempat, gerak dan zaman. 

(5) Jiwa. Jika alam semesta sebagai bentuk makro dari manusia, maka manusia merupakan bentuk mikro dari alam. Jiwa manusia berasal dari pancaran jiwa universal (jiwa alam). Jiwa-jiwa manusia secara keseluruhan merupakan jauhar (manusia absolut). Jiwa manusia secara bertahap berkembang menjadi akal, jiwa manusia mempunyai potensi berpikir (an-natiqah) yang dapat menangkap pengetahuan yang menjadi esensi dari kehidupan jiwa. Jadi, jiwa mempuyai indera lahir dan indera batin. Indera lahir menangkap objek-objek yang lahir. Objek inderawi ini kemudian membentuk imajinasi pada bagian otak. Kemudian meningkat pada kemampuan afektif pada bagian tengah otak, kemudian ke memori pada bagian belakang otak, dan kepada pengungkapan pikiran kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan. 

(6) Filsafat Agama. Ikhwan as-Safa, seperti dikemukakan di atas, ingin memadukan filsafat agama. Tetapi, karena secara intelektual kemampuan manusia antara satu dan lainnya tidak sama, ada yang awam (biasa) dan ada yang tertentu (khusus), maka upaya ini sulit diwujudkan. Bagi mereka, ungkapan-ungkapan Al-Qur’an yang bersifat inderawi hanya cocok untuk golongan awam, dan bagi orang yang memiliki pengetahuan yang tinggi, hal itu harus di-takwil-kan. 

(7) Moral. Ukuran baik dan buruk menurut Ikhwan as-Safa ditentukan oleh akal. Perbuatan dipandang terpuji apabila dikerjakan secara bebas atas kehendak sendiri, dan menjadi utama manakala didasarkan kepada logika akalnya. Kehidupan rohani dan zuhud menjadi prinsip hidup mereka. Karena itu, mengerjakan kewajiban yang berasal dari wahyu dapat mencapai alam malaikat, tetapi jiwa merindukan yang lebih tinggi dari tiu. Di sini cinta dipandang sebagai puncak keutamaan, yaitu cinta yang menghasilkan ekstase dan manifestasinya adalah pada kesabaran yang penuh rida dan ketakwaan.



Marguet menyebutkan bahwa Rasail Ikhwan as-safa wa Khullan al-Wafa (Surat-surat Ikhwan as-Safa dan Khullan al-Wafa) adalah karya Ikhwan as-Safa. Kandungan risalah ini meliputi pemikiran filsafat dan sains, terdiri dari 52 naskah, disusun menjadi empat kelompok;  

(1) Matematika. Terdiri dari empat belas naskah, meliputi geomteri, astronomi, musik, geografi , seni teoretis dan praktis, moral, dan logika. 

(2) Ilmu Alam dan Fisika. Terdiri dari tujuh belas naskah, meliputi  fisika, mineralogi, botani, alam kehidupan dan kematian, dan batas-batas kemampuan pemahaman manusia.

(3) Sains Pemikiran dan Psikologi. Terdiri dari sepuluh naskah yang meliputi antar lain metafisika dan pemikiran tentang edar dan waktu, tabiat cinta, dan tabiat kebangkitan kembali pada hari kiamat.

(4) Ilmu Agama dan Ketuhanan. Terdiri dari sebelas naskah yang meliputi keimanan dan upacara ritual, peraturan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, upacara-upacara Ikhwan as-Safa, ramalan dan keadaan mereka, entitas (perwujudan) spiritual dan tindakan (aksi), tipe perundangan politik, takdir, ilmu gaib, dan jimat. Secara garis besar pemikiran Ikhwan as-safa bersifat liberal, meski  tetap ingin memadukannya dengan Islam. 

Teks Risalah Ikhwan as-Safa terbit secara lengkap pertama kali tahun 1305-1306 H/1887-1889 M di Bombay, tahun 1928 di Cairo, kemudian pada tahun 1957 diterbitkan di Beirut. Pengaruh Risalah Ikhwan as-Safa cukup besar dalam kelanjutan transformasi filsafat Yunani ke dunia Islam, meskipun mendapat reaksi cukup keras dari golongan agama. Termasuk juga dari kelompok teolog yang menolak pen-takwil-an Al-Qur’an dan hadis. Bahkan kalangan filsuf sendiri memandang filsafat yang dikembangkan oleh Ikhwan as-Safa sebagai aneh dan hanya cocok untuk orang awam.


Ikhwan as-Safa merupakan organisasi Islam militan yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan as-Safa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris. Inilah yang dapat kita urai, dan masih banyak yang belum terurai. Wallahu A’lam.


DAFTAR PUSTAKA

Dewan Redaksi Ensikloped Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.

Website:
http://mirarami.wordpress.com/2009/11/03/ikhwan-al-shafa-sejarah-dan-pemikirannya/