23 April 2012

Ketergantungan Terhadap Orang Lain


Salam Sejahtera...

Manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang tak bisa hidup sendiri. Butuh manusia lain untuk dapat menjalani hidup dengan baik. Dalam bersosialisasi tentunya menambaha dafar teman/orang yang kita kenal. Bahkan kita mengalami ketergantungan terhadap orang lain.

Ketergantungan terhadap orang lain terkadang terdefinisikan sebagai sesuatu yang kurang baik. Memang sih terpikir seperti itu. Tapi ada suatu saat dimana kita butuh orang lain.

Ketika seorang bayi menangis. Saat itulah bagaimana peran orangtua menjadi sebuah ketergantungan bagi sang bayi. Hal itu menjadi sesuatu yang mutlak karena umurnya. Hehehe. Fenomena yang unik, terkadang ada juga ‘anak besar’ yang mengalami ketergantungan berlebih. Seakan tidak pantas dengan umurnya.

Dalam hidup yang keras kita dituntut untuk dapat mandiri. Tidak melulu bergantung pada orang lain untuk hal-hal yang seharusnya dapat dikerjakan sendiri. Kemandirian kita akan mendidik menjadi orang yang tangguh menjalani hidup.

Ketergantungan yang berlebih terhadap orang lain dapat membawa dampak besar bagi diri. Banyak hal yang seharusnya dilakukan sendiri malah harus diurus orang lain. Seperti makan misalnya. Apabila dalam keadaan normal dan untuk makan saja kita masih harus disuapi oleh orangtua maka itu menjadi sesuatu yang tak wajar.

Kita harusnya dapat memanajemen hidup kita. Berusaha untuk dapat lebih mandiri. Orang yang terlalu bergantung dengan orang lain akan kelimpungan ketika tempat bergantungnya hilang. Seakan mejadi tidak punya pengarah hidup. Padahal tidak seperti itu sejatinya.

Sebagai muslim kita mempunyai Allah. Tuhan kita dan seluruh alam ini. Ketergantungan yang tidak wajar terhadap orang lain sama saja melupakan esensi hal ini. Dalam surat al-ikhlas ada ayat yang menyatakan dengan jelas bahwa Allah-lah tempat kita bergantung.

(1. Say (O Muhammad (Sal-Allaahu 'alayhe Wa Sallam)): "He is Allâh, (the) One. 2. "Allâh-us-Samad (the Self-Sufficient master, whom All creatures need, He neither eats nor drinks). 3. "He begets not, nor was He begotten; 4. "And there is none co-equal or comparable unto him.") QS Al-Ikhlas

Dengan jelas dalam surat itu bahwa Allah-lah Tuhan kita yang maha esa. Allah-lah tempat kita bergantung. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satuun yang menyerupai Ia.

Maka, kita sebagai muslim harusnya dapat memahami hal ini dengan baik. Saling tolong menolong, bersosialisasi dengan orang itu baik. Tapi kita harus paham bahwa sejatinya Allah-lah tempat kita bergantung. Karena Allah-lah pencipta kita. Allah yang memberi rizki pada kita. Harusnya kita meminta kepadaNya, berdoa kepadaNya, menyembah kepadaNya, dan bukan terhadap orang lain.

Semoga kita senantiasa berada dalam lindunganNya. Amin.