4 Februari 2012

Resensi > 17 Catatan Hati: Ummi


             Salam...
             Alhamdulillah pada akhirnya bisa nulis lagi ^_^v
             Pada kangen yaaa, maaf deh kalo bikin kangen *pede* :p

             Tulisan kali ini tanggapan gue yang abis baca buku bunda Asma Nadia 17 Catatan Hati UMMI.
Di buku ini ada 3 novel dan 10 cerpen. Nah, gue mau bahas yang 3 novelnya aja yaa.. hehehe


Novel pertama, “Ridhanya Ummi, Ridhanya Allah”. Setiap “bab” ditulis sebagai “catatan hati”. Tiap bab gak panjang-panjang amat, dan itu yang bikin gue seneng bacanya.. hehe.. bab yang pertama bagi gue itu prolog, kayak yang di novel-novel Dan Brown gitu, isinya suatu kejadian dalam novel. Keren jadinya. Hehe..

Jadi Ummi ini adalah dai’ah, suka ceramah-ceramah dari mimbar ke mimbar, bahkan diburu pekerja infotainment. Punya banyak anak dengan masah berbeda-beda. Ada cewek yang masih centil, masih suka backstreet (menurut gue),  ada cowok yang rada gay,  ada yang anak cowoknya saleh tapi ternyata istrinya “berbeda”, dan lainnya.

Disini ditunjukkan bagaimana Ummi bersama Abah menyelesaikan masalah-masalah yang ada dengan bijak. Dan pada akhirnya ada suatu kejadian yang “menyadarkan” Ummi bahwa anak-anaknya sendiri adalah objek dakwah yang harus lebih sering diperhatikan.
Banyak kata-kata yang bisa jadi quote bagus dan udah beberapa gue copas jadi tweet, hehe...

*****

Novel kedua, Cinta Dalam 99 Nama-Mu. Ada prolognya juga nih yang sejenis sama novel pertama. Ada dua orang yang jadi tokoh utama dalam novel ini. Yang satu wanita yang sudah pernah tertarbiyah namun merasa bahwa ujiannya yang dihadapinya sangat berat, yang satu lagi wanita yang tergugah hatinya untuk tarbiyah. Dua-duanya sudah menjadu “ummi”. Eh, btw, ini menurut gue yaa, mungkin ada pembaca yang berbeda p[endapat, mohon masukannya ajah.. hehe..

Dalam novel ini yang paling jelas aku tangkep yaa, kita diajarkan untuk yakin pada Allah. Yakin bahwa Allah akan mengabulkan kita. Dan juga biar lebih bagus, kita bisa berdoa dengan menyebut asmaul husna J

*****

Novel ketiga, Lebaran di Rumah Abah. Sebenernya “ke-ummian” di novel ini menurut gue sih gak terlalu frontal, namun tersirat. Bagaiman begitu besarnya peran seorang Ummi bagi Abah. Dan ketika Ummi meninggal sang Abah begitu trauma sampai-samapai gak mau keluar rumah. Shalat Jum’at pun hanya idlaksanakan di ruang tamu yang masih terdengar suara imam mesjid seberang. Hubungannya dengan anak-anaknya menjadi renggang setelah kepergian Ummi. Namun ada satu anak lelakinya yang menjadi “penghubung dan pepencair suasana” dalam hidupnya. Sampai suatu ketika muncul permasalahan yang ternyaat membuat Abah berhasil menghilangkan traumanya J

*****

Nah itu dia resensi tiga novel yang ada di buku ini. Kalo cerpennya, ada sepuluh. Waduh capek ah nulisisnnya, tanya langsung ajah :p yang jelas cerpen-cerpennya adalah yang ditulis bunda Asma dari tahun 1995 sampai 2011.

           Yap, pokoknya, kalo buku-buku bunda Asma, menurut gue “a must read” banget deh.. haha..
Wassalam.. tetap semangat. Peace, Love, and Gaul! XD